studiOG

studiOG

studiOG adalah ruang produksi kreatif yang sebenarnya telah mulai menjalankan “mesinnya” sejak 1998 hingga sekarang. Berangkat dari sebuah produksi musik amatir untuk ilustrasi pementasan teater, kemudian mencoba merambah dunia ilustrasi musik untuk film-film indie, iklan TV kabel dan TV lokal, radio, produksi musik karaoke, minus-one, album indie label dan major label. Hingga saat ini, akhirnya studiOG menjadi mitra perusahaan-perusahaan animasi, advertising dan entertainment


studiO G main control room 2010

PRODUCT

jingles

music score

arrange & song writing

music post production (mixing & mastering)

audio post production (movie's audio, etc)

NOW PROJECT

preparation for live recording session "KANCAKU"

ADDITIONAL EQUIPMENT

ADDITIONAL  EQUIPMENT
Custom Active Headphone Amplifier, design & produced by Gatot Danar Sulistyo in Art Music Today .......... artist rekaman dapat mengatur sendiri level audio di headphone-nya sendiri

PORTO FOLIO

MUSICAL ARRANGEMENT WORK (ALBUM & SINGLE)

  • “TITIK-TITIK TANDA TANYA” album musik pop daerah, Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus 2003.
  • "SERUNAI HATI" Prod.MARUS ent. Yogyakarta 2004.
  • “MUTIARA JOGJA 04.00” album qasidah akustik, Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus, 2004.
  • “LIGA SUPER” album kompilasi sepak bola, Prod.Gilbol Network, Jakarta 2008. (acoustic piano, & keyboard)
  • “PETARUNG HIDUP” album musik tribal ethnic rock, LANGIT, Prod. Henk publica 2009.
  • “AKU DAN TEMANKU” Prod. Falcon ent. Jakarta 2010.

MOVIE SOUNDTRACK & MUSIC SCORE

  • “MOBIL KAYU” (film anak-anak/live shoot 58”) Prod. Anak Wayang Indonesia, Yogyakarta 2003.
  • “KARNAVAL PERSAHABATAN” (film anak-anak/live shoot 55”) Prod. LSPPA, Yogyakarta 2003.
  • “SELENDANG BIDADARI” (film anak-anak/live shoot 55”) Prod. RIRI Art Pro, Yogyakarta 2004.
  • “GARIS HITAM PUTIH HITAM” (film anak-anak/live shoot 48”) Prod. BRANI Production, Jakarta 2004.
  • “KWEK” (film pendek/animasi 13”) Prod. AnekaPixel, Yogyakarta 2005. (penghargaan: “Animasi terseru” GIFF 2005, “Film Pilihan Juri dan Penonton” KONFIDEN 2006).
  • “RUKUN AGAWE SANTOSA” Prod. AnekaPixel, Yogyakarta 2006
  • “DIALOG.” Prod.Axis ent. Yogyakarta 2007.
  • “AKU ADA” (film pendek/live shoot 14menit) Prod. 2010.
  • "KERONCONG MBAH NAS" Prod.OG Studio Jogjakarta 2010.
  • “AIR CINTAKU TANAH AIRKU” Prod. Dinas Pengairan Yogyakarta 2010.

TV PROGRAM, COMERCIAL BREAK ,

PUBLIC SERVICE ANOUNCEMENT & COMPANY PROFILE


  • MEDIVEN produksi bersama Jogjanimation, Jogja 2011.
  • SA Kesehatan dan Kebersihan, Prod. TV UAD, Yogyakarta 2001.
  • “TAFSIR AL-MISHBAH” (mengenal juz Amma) Prod.Metro TV, Jakarta 2004. (MUI AWARD 2004).
  • “PROFIL KABUPATEN KUDUS”, Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus 2004.
  • “POLYTRON Sign of Quality”, Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus 2005.
  • “BUKA LUWUR SUNAN KUDUS”, Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus 2005.
  • “MISTERI ALAS ROBAN” Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra, Kudus, 2005.
  • “PENDIDIKAN KELUARGA ISLAMI” Prod. PT. Elang Mas Ananta Istamitra Kudus, 2006.
  • “CINTAI PRODUK SENDIRI” Iklan Layanan masyarakat Departemen Dalam Negeri 2007.
  • “LALU LALU LINTAS” Iklan Layanan masyarakat Departemen Perhubungan 2008.
  • “HIM & HER” serial animasi 2D Prod.ADB Yogyakarta 2010.
  • “SAMBA DAN SAHABAT" serial animasi 3D 26 episode, Prod. PT. Lima Karsa Kreasi Tama, & Jogjanmation , Jakarta 2010.

FASHION SHOW MUSIC WORK

  • “Smaradhana Batik Semarang ing Lawang Sewu” Gedung Lawang Sewu, Semarang 2007.
  • “Fashion Dance, Adheging Nagari Ngayogyakarta” Benteng Vredeburg, Yogyakarta 2008. (designer: Ninik Darmawan, Ari Sudewo, Manik Puspito, Tommy, Afif Syakur, Lia Mustafa, Dendy THY, Good & Sany Puspo, Nita Azhar)
  • “PARADE BATIK” Ambarukmo Plaza, Yogyakarta 2009.
  • “Kasmaran” Anne Avantie , JCC, Jakarta November 2009.
  • “ECOFASHION” Ninik Darmawan, Jogja Fashion Week 2010.





LIVE SHOW MUSIC

  • “Parade Teater 2001” ISI Yogyakarta, Yogyakarta 2001.
  • “Perempuan Permpuan Nagari” Komunitas Teater Perempuan Yogyakarta. 5 – 6 Oktober 2001 (Lembaga Indonesia Perancis/ Yogyakarta), 10 – 11 Oktober 2001 (The Japan Foundation/ Jakarta), 14 Oktober 2001 ( Gedung Rumentang Siang/Bandung), Yogyakarta, Jakarta, Bandung 2001.
  • “Perempuan-Perempuan Nagari”, 3 - 4 Mei (Universitas Muhammadiyah Malang), 6 Mei (Taman Budaya Cak Durasim Surabaya) dan 9 Mei (STSI Denpasar), Malang, Surabaya, Denpasar 2002.
  • “Memandangmu Mencium Mesra Bibir Kekasihmu” Produksi “Throwyourinsideproduction” Yogyakarta 2002.
  • “Les Bones’ Teater ISI Yogyakarta, Yogyakarta 2003.
  • “Kemerdekaan” Auditorium Teater ISIYogyakarta, Yogyakarta 2003.
  • “Antigone” Auditorium Teater ISI Yogyakarta, Yogyakarta 2003.
  • “Holocaust Rising”, Yogyakarta 2008, dan Festival Salihara Jakarta 2009.
  • Dance Theater “Kandasmara I”, Theater Hall, Yogyakarta Desember 2009.
  • Dance Theater “Kandasmara II” Dance Hall, Yogyakarta Februari 2010.
  • Dance Theater “Kandasmara III” Malay Heritage Center Singapore Februari 2010.
  • Dance Theater “Kandasmara IV” PALMA HALL, University of the Philippines Quezon City, Manila April 2010.





KNOWLEDGE SHARE


T E L I N G A K I T A

Telinga normal tanggap terhadap bunyi di antara jangkauan frekuensi audio sekitar 20 sampai 20.000 Hz. Kebanyakan bunyi (pembicaraan, musik, dan bising) terdiri dari banyak frekuensi, yaitu komponen-komponen frekuensi rendah, tengah, medium. Karena itu amatlah penting untuk memeriksa masalah-masalah akustik meliputi spektrum frekuensi yang dapat didengar. Frekuensi standar yang dapat dipilih secara bebas sebagai wakil yang penting dalam akustik lingkungan adalah 125, 250, 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz atau 128, 256, 512, 1024, 2048, dan 4096 Hz (Doelle,1986).

P E N Y E R A P A N B U N Y I

Doelle (1986) menyatakan efisiensi penyerapan suatu bunyi suatu bahan pada suatu frekuensi tertentu dinyatakan oleh koefisien penyerapan bunyi. Koefisien penyerapan bunyi suatu permukaan adalah bagian energi bunyi dating yang diserap, atau tidak dipantulkan oleh permukaan. Permukaan interior yang keras, yang tak dapat ditembus (kedap), seperti bata, bahan bangunan batu, dan beton, biasanya menyerap energi gelombang bunyi datang kurang dari 5% (0,05). Di lain pihak, isolasi tebal menyerap energi gelombang bunyi yang datang lebih dari 80% (koefisien penyerapan di atas 0,8).

Dalam kepustakaan akustik arsitektur dan pada lembaran informasi yang diterbitkan oleh pabrik-pabrik dan penyalur, bahan akustik komersial kadang-kadang dicirikan oleh koefisien reduksi bising, yang merupakan rata-rata dari koefisien penyerapan bunyi pada frekuensi 250, 500, 1000, dan 2000 Hz yang dinyatakan dalam kelipatan terdekat dari 0,05. Nilai ini berguna dalam membandingkan penyerapan bunyi bahan-bahan akustik komersial secara menyeluruh bila digunakan untuk tujuan reduksi bising (Doelle, 1986).

Bila bunyi menumbuk suatu permukaan, maka ia dipantulkan atau diserap. Energi bunyi yang diserap oleh oleh lapisan penyerap sebagian diubah menjadi panas, tetapi sebagian besar ditransmisikan ke sisi lain lapisan tersebut, kecuali bila transmisi tadi dihalangi oleh penghalang yang berat dan kedap. Dengan perkataan lain penyerap bunyi yang baik adalah pentransmisi bunyi yang efisien dan arena itu adalah insulator bunyi yang tidak baik. Sebaliknya dinding insulasi bunyi yang efektif akan menghalangi transmisi bunyi dari satu sisi ke sisi lain. Bahan-bahan dan kontruksi penyerap bunyi dapat dipasang pada dinding ruang ataupun digantung di udara (Doelle, 1986). Bahan-bahan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Bahan berpori, seperti papan serat (fiber board), plesteran lembut, mineral wools, dan selimut isolasi, memiliki karakteristik dasar suatu jaringan seluler dengan pori-pori yang saling berhubungan. Energi bunyi datang di ubah menjadi energi panas dalam pori-pori ini. Bahan-bahan selular, dengan sel yang tertutup dan tidak saling berhubungan seperti damar busa, karet selular, dan gelas busa, adalah penyerap bunyi yang buruk. Penyerap berpori mempunyai karakteristik penyerapan bunyinya lebih efisien pada frekuensi tinggi dibandingkan pada frekuensi rendah dan efisiensi akustiknya membaik pada jangkauan frekuensi rendah dengan bertambahnya tebal lapisan penahan yang padat dan dengan bertambahnya jarak dari lapisan penahan ini. Bahan berpori ini antara lain ubin selulosa, serat mineral, serat-serat karang (rock wool), serat-serat gelas (glass wool), serat-serat kayu, lakan (felt), rambut, karpet, kain dan sebagainya.
2. Penyerap panel atau selaput merupakan penyerap frekuensi rendah yang efisien. Bila dipilih dengan benar, penyerap panel mengimbangi penyerapan frekuensi sedang dan tinggi yang agak berlebihan oleh penyerap-penyerap berpori dan isi ruang. Jadi penyerap ruang menyebabkan karakteristik dengung yang serba sama pada seluruh jangkauan frekuensi audio. Penyerap-penyerap panel yang berperan pada penyerapan frekuensi rendah antara lain panel kayu dan hardboard, gypsum boards, langit-langit plesteran yang digantung, plesteran berbulu, jendela, kaca, dan pintu. Bahan-bahan yang berpori yang diberi jarak dari lapisan penunjangnya yang padat juga berfungsi sebagai penyerap panel yang bergetar dan menunjang penyerapan pada frekuensi rendah.
3. Resonator rongga (Helmholtz) merupakan penyerap bunyi yang terdiri dari sejumlah udara tertutup yang dibatasi dinding-dinding tegar dan dihubungkan oleh celah sempit ke ruang sekitarnya, di mana gelombang bunyi merapat.


Pemasangan dan Distribusi Bahan-Bahan Penyerap

Karakteristik penyerapan bunyi tidak boleh dianggap seperti sifat intrinsik bahan-bahan akustik, tetapi sebagai suatu segi yang sangat tergantung pada sifat-sifat fisik, detail pemasangan dan kondisi lokal. Tidak ada tipe cara pemasangan tertentu yang dapat dikatakan sebagai pemasngan optimum untuk setiap pemasangan. Bermacam-macam perincian yang harus diperhatikan secara serentak yaitu tentang sifat-sifat bahan akustik, kekuatan, susunan (texture) permukaan, dan lokasi dinding-dinding ruang di mana bahan akustik akan dipasang, ruang yang tersedia untuk lapisan permukaan tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu, kemungkinan penggantian di waktu yang akan datang, biaya dan lain-lain (Doelle,1986).

Pemilihan Bahan Penyerap Bunyi

Bahan-bahan akustik dimaksudkan untuk mengkombinasikan fungsi penyerapan bunyi dan penyelesaian interior, maka dalam pemilihan lapisan akustik sejumlah pertimbangan di luar segi akustik juga harus diperhatikan. Perincian berikut ini harus diperiksa dalam pemilihan lapisan-lapisan penyerap bunyi yaitu mengenai koefisien penyerapan bunyi pada frekuensi-frekuensi wakil jangkauan frekuensi audio, penampilan (ukuran, tepi, sambungan, warna, jaringan), daya tahan terhadap kebakaran dan hambatan terhadap penyebaran api, biaya instalasi, kemudahan instalasi, keawetan (daya tahan terhadap tumbukan, luka-luka mekanis, dan goresan), pemantulan cahaya, ketebalan dan berat, nilai insulasi termis, daya tarik terhadap kutu, kutu busuk, jamur, kemungkinan penggantiannya dan kebutuhan serentak akan insulasi bunyi yang cukup (Doelle,1986).

Jenis bahan peredam suara yang sudah ada yaitu bahan berpori, resonator dan panel (Lee, 2003). Dari ketiga jenis bahan tersebut, bahan berporilah yang sering digunakan. Khususnya untuk mengurangi kebisingan pada ruang-ruang yang sempit seperti perumahan dan perkantoran. Hal ini karena bahan berpori retaif lebih murah dan ringan dibanding jenis peredam lain (Lee, 2003). Material yang telah lama digunakan pada peredam suara jenis ini adalah glasswool dan rockwool.

Pengaruh bising dan Pengukuran Bising

Bising yang cukup keras, di atas sekitar 75 dB, dapat menyebabkan kegelisahan, kurang enak badan, kejenuhan mendengar, sakit lambung dan masalah peredaran darah. Bising yang sangat keras, di atas 85 dB, dapat menyebabkan kemunduran yang serius pada kesehatan seseorang pada umumnya, dan bila berlangsung lama, kehilangan pendengaran sementara atau permanen dapat terjadi. Bising yang berlebihan dan berkepanjangan terlihat dalam masalah-masalah kelainan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan luka perut.